BAB I
PENDAHULUAN
1.1. JUDUL PENELITIAN
ANALISIS
SISTEM AKUNTANSI PENERIMAAN KAS DALAM UPAYA
PENINGKATAN PENGENDALIAN INTERNAL
(Studi
Pada Kusuma Sahid Prince Hotel)
1.2. LATAR BELAKANG PENELITIAN
Persaingan dunia bisnis
bidang pariwisata dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat. Di Indonesia
sektor pariwisata telah memainkan peranan yang penting dalam pembangunan
nasional. Untuk dapat menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara maka
dibutuhkan peran dan dukungan dari pemerintah serta seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu aspek utama yang menunjang sektor pariwisata adalah bidang
perhotelan. Meningkatnya dunia pariwisata saat ini di Indonesia menunjukkan
arti penting sebuah hotel. Tak bisa dipungkiri, semakin maju sektor pariwisata,
semakin tinggi pula perkembangan bisnis perhotelan. Seiring dengan perkembangan
tersebut tentu saja semakin banyak hotel yang berdiri dan tentu saja terdapat
persaingan satu sama lain. Dalam menghadapi persaingan tersebut setiap
manajemen hotel dituntut untuk melakukan inovasi untuk tetap berkembang. Banyak hal yang dapat
dilakukan perusahaan untuk mewujudkan tujuan dan harapan demi memenangkan
persaingan bisnis. Salah satunya adalah dengan meningkatkan sistem pengendalian
internal yang ada pada perusahaan agar lebih efektif dan sesuai dengan tujuan
perusahaan. Adanya pengendalian internal pada sistem akuntansi yang baik
akan mampu menyediakan informasi yang tepat waktu, mampu mengamankan harta
perusahaan dan meminimalkan serta mendeteksi resiko yang akan dihadapi
perusahaan.
Akuntansi adalah suatu disiplin
ilmu yang memfokuskan diri pada kegiatan pengolahan dan penyajian informasi
keuangan suatu organisasi, yang akan digunakan pihak tertentu. Menurut Charles
T. Horngren dan Walter T. Harrison (2001:5) akuntansi adalah suatu sistem untuk
mengukur kegiatan bisnis, memproses informasi menjadi laporan-laporan, dan
mengkomunikasikan temuan-temuannya kepada para pembuat laporan. Informasi
merupakan salah satu faktor yang penting bagi perushaan dalam menjalankan
kegiatannya, dimana terdapat pihak internal dan pihak eksternal yang juga
memberi pengaruh dalam pemberian maupun penerimaan informasi terkait penerimaan
dan pengeluaran kas. Berdasarkan pernyataan diatas dapat dilihat suatu laporan
atau pencatatan keuangan sangat penting bagi perusahaan. Informasi dari suatu
perusahaan, terutama informasi keuangan, dibutuhkan oleh berbagai macam pihak
yang berkepentinangan. Pihak-pihak di luar perusahaan seperti : kreditur, calon
investor, kantor pajak dan lain-lainnya. Di samping itu, pihak internal yaitu
manajemen juga memerlukan informasi keuangan untuk mengetahui, mengawasi, dan
pengambilan keputusan-keputusan untuk menjalankan perusahaan. Untuk memenuhi
kebutuhan informasi bagi pihak luar maupun dalam perusahaan, maka perlu disusun
suatu sistem akuntansi. Sistem ini direncanakan untuk menghasilkan informasi
yang berguna bagi pihak luar maupun dalam perusahaan.
W. Gerald Cole (Gellespie Cecil,
1997:2) mengemukakan bahwa Sistem adalah suatu kerangka dari prosedur-prosedur
yang saling berhubungan yang disusun sesuai dengan suatu skema yang menyeluruh,
untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi utama dari perusahaan. Prosedur
adalah suatu urut-urutan pekerjaan kerani (clerical), biasanya
melibatkan beberapa orang dalam satu bagian atau lebih, disusun untuk menjamin
adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi perusahaan yang
sering terjadi.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa sistem akuntansi adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan
mengkomunikasikan informasi yang relevan untuk mengetahui, mengawasi, dan
pengambilan keputusan-keputusan dalam menjalankan perusahaan guna mencapai
tujuan organisasi. Dalam kegiatan suatu organisasi, banyak tindakan manajemen
yang tidak sistematis. Hal ini disebabkan oleh keadaan yang tidak memungkinkan
bagi seorang manajer untuk menggunakan pertimbangan pribadinya dalam bertindak,
kegiatan seperti ini biasanya berkaitan dengan interaksi antara manajer yang
satu dengan manajer yang lainnya dan manajer dengan bawahannya. Ketepatan
sistem itu sendiri akhirnya tergantung pada kemampuan manajer mengatur
seseorang.
Sementara itu, pengendalian
adalah proses penetapan standar, dengan menerima umpan balik berupa kinerja
sesungguhnya dan mengambil tindakan yang diperlukan jika kinerja sesungguhnya
berbeda secara signifikan dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Sistem
pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran
yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan
keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya
kebijakan manajemen. Definisi tersebut lebih menekankan pada tujuan yang ingin
dicapai, bukan pada unsur-unsur yang membentuk sitem tersebut. Oleh karena itu,
pengertian pengendalian intern di atas berlaku bagi perusahaan yang mengolah
informasinya secara manual dengan mesin pembukuan maupun dengan komputer.
Pengendalian internal terdiri
atas semua metoda dan tindakan yang saling berkaitan yang diterapkan dalam
suatu organisasi untuk mengamankan asset, meningkatkan keandalan catatan
akuntansi, meningkatkan efisiensi operasi, dan menjamin kesesuaian dengan
ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Terdapat unsur pengendalian
internal yang perlu diperhatikan pihak manajemen hotel terkait sistem akuntansi
penjualan/ piutang hotel. Beberapa unsur diantaranya terkait dengan unsur
organisasi hotel, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, praktek yang sehat serta
karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya. Kas merupakan akun yang
penting dalam operasional suatu hotel, tanpa ditunjang dengan kas yang memadai
akan dapat mengganggu kelancaran aktivitas operasional suatu hotel, karena kas
juga sebagai modal kerja yang sangat menunjang kelangsungan aktivitas
keseharian suatu hotel. Suatu hotel dalam operasionalnya memerlukan dana yang
tidak sedikit, di mana dana tersebut akan digunakan untuk membiayai semua
pengeluaran yang disediakan sebagai fasilitas tamu selama menginap dan dana
tersebut baru bisa diperoleh kembali oleh perusahaan setelah tamu yang menginap
atau menggunakan fasilitas hotel sudah melakukan pembayaran.
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penting sekali memiliki sistem
pengendalian internal yang bagus. Dengan memiliki sistem pengendalian internal
yang bagus, perusahaan dapat memberikan perhatian lebih pada upaya untuk
memperbaiki kualitas yang akan memberikan kontribusi bagi keberhasilan
perusahaan.
Persaingan dunia usaha semakin
ketat, sehingga masalah-masalah yang dihadapi perusahaan semakin banyak. Salah
satu permasalahan yang di hadapi perusahaan adalah mengenai pengendalian
internal atas penerimaan kas. Karena sering terjadinya kecurangan terhadap kas,
maka akan berdampak buruk dan menyebabkan kerugian bagi pihak perusahaan.
1.3. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian
latar belakang permasalahan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan
pada penelitian ini adalah :
1.3.1. Apa saja bagian
atau fungsi yang terkait dalam penerimaan kas Kusuma Sahid Prince Hotel ?
1.3.2. Bagaimana sistem
akuntansi yang diterapkan pada Kusuma Sahid Prince Hotel ?
1.3.3. Bagaimana
Sistem Pengendalian Internal yang diterapkan pada Kusuma Sahid Prince Hotel ?
1.3.4. Apakah sistem
akuntansi penerimaan kas berpengaruh dalam upaya peningkatan pengendalian
internal pada Kusuma Sahid Prince Hotel ?
1.4. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan
Rumusan Masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.4.1. Untuk mengetahui
bagian atau fungsi yang terkait dalam penerimaan kas pada Kusuma Sahid Prince
Hotel
1.4.2. Untuk
mengetahui sistem akuntansi penerimaan kas yang diterapkan pada Kusuma Sahid
Prince Hotel
1.4.3. Untuk
mengetahui sistem penegendalian yang diterapkan pada Kusuma Sahid Prince Hotel
1.4.4. Untuk membuktikan
pengaruh sistem akuntansi penerimaan kas dalam upaya peningkatan pengendalian
internal pada Kusuma Sahid Prince Hotel
1.5. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.5.1. Manfaat
teoritis
1)
Bagi penulis, penelitian ini dapat ikut
berkontribusi dalam pengembangan ilmu akuntansi dalam lingkup sistem penerimaan
kas yang diterapkan di hotel dalam upaya peningkatan pengendalian internal
2)
Bagi akademisi, penelitian ini dapat
memberikan ilmu pengetahuan dalam lingkup sisitem penerimaan kas yang
diterapkan di hotel dalam upaya peningkatan pengendalian internal
1.5.2. Kegunaan
praktis
1)
Bagi perusahaan, penelitian ini
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam pelaksanaan
sistem akuntansi yang baik dalam upaya peningkatan penegendalian internal
2)
Bagi pihak eksternal, penelitian
ini dapat menjadi bahan acuan untuk penelitian sejenis
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.1.
HASIL PENELITIAN
TERDAHULU
Berikut ini
adalah hasil penelitian terdahulu yang berhasil dikumpulkan penulis sebagai
refrensi dalam penelitian ini :
1.1.1. Citra Violitasari Anggraeni (2014) melakukan penelitian pada Hotel
Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang yang berjudul “Sistem Akuntansi Jasa
Penjualan Kamar dan Jasa Penjualan Restoran Dalam Upaya Peningkatan
Pengendalian Intern”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif
dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil
penelitian dapat diketahui bahwa sistem dan prosedur pada penjualan kamar dan
restoran di UB Hotel beberapa aspek sudah mendukung pengendalian intern,
seperti dalam aspek praktik yang sehat khususnya perputaran jabatan dan
karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya serta formulir yang
digunakan juga sudah bernomor
urut. Akan tetapi ada beberapa aspek yang masih belum mendukung pengendalian
intern yakni belum adanya standar operasional prosedur yang tertulis, masih ada
beberapa perangkapan jabatan serta tidak pernah dilakukan pemeriksaan mendadak
oleh pimpinan UB Hotel.
1.1.2. Nur Fakhrur Razy (2012) melakukan penelitian pada Hotel Griyadi Montana
Malang yang berjudul “Analisis Pengendalian Internal Terhadap Siklus Pendapatan
Jasa”. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang mengarah pada
studi kasus. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah
secara umum sistem informasi akuntansi atas siklus pendapatan yang ada sudah
cukup efektif, perusahaan sudah mampu memproses dokumen dan menyediakan
informasi untuk pembuat keputusan, seperti manager. Walaupun masih terdapat
kelemahan dari segi pengendalian organisasional, serta kurang optimalnya
pengendalian asset, pengendalian dokumentasi, dan pengendalian otorisasi yang
telah dilakukan. Selain itu, perusahaan juga belum mempunyai standart operating
procedure dan kebijakan akuntansi secara tertulis yang dapat dijadikan
sebagai pedoman oleh karyawan dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu,
permasalahan tersebut perlu diperbaiki dengan melakukan perbaikan pada struktur
organisasi, dimana pengendalian organisasi mempunyai keterkaitan erat dengan
pengendalian lainnya. Disamping itu juga perlu meningkatkan pengendalian asset,
pengendalian dokumentasi, dan pengendalian otorisasi yang telah dilakukan.
Serta menyusun standart operating procedure dan kebijakan akuntansi
secara tertulis.
1.1.3. Neti Warni melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Unsur
Pengendalian Internal Atas Penjualan dan Penerimaan Kas Pada Hotel Plaza
Tanjungpinang”. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka penulis mengambil kesimpulan
sebagai berikut : Secara keseluruhan sistem pengendalian internal atas pendapatan
dan penerimaan kas pada Hotel Plaza Tanjungpinang telah memenuhi unsur
pengendalian internal. Dimana manajemen Hotel Plaza Tanjunggpinang sudah
menerapkan unsur-unsur pengendalian internal. Tetapi masih terdapat beberapa
prosedur yang belum sesuai dengan unsur-unsur pengendalian internal. Berikut
adalah kesimpulan yang diambil oleh Penulis dari hasil penelitian diatas :
1)
Unsur pengendalian internal yang diterapkan oleh
Hotel Plaza Tanjungpinang secara keseluruhan sudah sesuai dengan unsur
pengendalian internal
2)
Sistem pendapatan dan Sistem penerimaan kas pada Hotel
Plaza Tanjungpinang sudah sesuai dengan unsur pengendalian internal. Namun di
sisi lain masih ada sedikit yang belum sesuai dengan unsur pengendalian internal
dimana penjualan tunai seharusnya kas disetorkan ke bank pada hari kerja yang
sama atau pada hari kerja berikutnya, akan tetapi menurut tinjauan yang dalakukan
oleh penulis di lapangan bahwa setiap kas yang diterima di setor ke bank setiap
dua minggu sekali atau satu bulan sebanyak dua kali. Hal seperti ini akan berdampak
tidak baik sehingga menimbulkan penyalahgunaan pada kas.
Saran dari penulis untuk Hotel Plaza Tanjungpinang adalah
:
1)
Agar lebih maksimal untuk fungsi akuntansi harus
terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas, agar tidak terjadi
penyalahgunaan wewenang seperti kecurangan dalam pencatatan
2)
Untuk menghindari penyalahgunaan kas, sebaiknya kas
disetor ke bank setiap hari kerja
3)
Berdasarkan unsur pengendalian internal fungsi
akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas, namun
dari hasil penilaian Penulis bahwa fungsi penagih merangkap menjadi fungsi
penerimaan kas
4)
Untuk menghindari penyalahgunaan kas, sebaiknya
hasil perhitungan kas direkam dalam berita acara dan disetor penuh segera ke
bank
5)
Sebaiknya jabatan karyawan sesuai dengan
pendidikannya
1.1.4. Yoga Budisatria (2010) melakukan penelitian yang berjudul “Evaluasi
Sistem Akuntansi Penerimaan Kas dari Sewa Kamar Hotel Baron Indah Surakarta”.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Hotel Baron Indah terletak di jalan Dr. Radjiman 392
Laweyan Surakarta. Hotel ini merupakan hotel melati tiga yang mempunyai service
sekelas hotel berbintang tiga dan dibangun dengan nuansa modern dan
tradisional. Fasilitas yang dapat ditemukan di Hotel Baron Indah adalah restaurant,
ruang pertemuan, laundry & dry cleaning service, store, free
transport airport/ station, spa, and business center. Dalam melakukan
penjualan jasa perusahaan perlu mempunyai suatu sistem yang dapat menunjang
kegiatan operasi perusahaan. Salah satu sistem tersebut yaitu sistem penerimaan
kas. Dalam sistem penerimaan kas sangat mungkin terjadi kecurangan dan
manipulasi data sehingga diperlukan suatu sistem penerimaan kas yang lebih
efektif dan efisien. Pada umumnya sistem penerimaan kas yang diterapkan Hotel
Baron Indah telah memadai. Hal ini dapat dilihat dari adanya pemisahan tugas
antara fungsi penjualan, fungsi kas, dan fungsi akuntansi. Dokumen yang digunakan
telah bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dapat dipertanggung jawabkan oleh
pihak yang berwenang. Catatan akuntansi yang digunakan telah memadai yang
ditunjang dengan penggunaan software hospitality manager. Prosedur yang
diterapkan telah dilaksanakan secara konsisten. Selain itu, sistem penerimaan
kas ditunjang oleh aktivitas pengendalian intern yang memadai. Jadi sistem
penerimaan kas dari sewa kamar Hotel Baron Indah Surakarta sudah cukup baik
meskipun masih ada yang perlu ditambahkan.
1.1.5. Titi Widyaningsih, melakukan penelitian yang berjudul “Sistem Informasi
Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas Pada Hotel Bukit Asri Semarang”. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode pengamatan secara langsung . Dengan wawancara
maupun study pustaka. Selanjutnya melakukan analisis sistem dari perancangan
desain sistem informasi akuntansi lalu membuat sistem informasi akuntansi
penerimaan dan pengeluaran kas. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah
aplikasi sistem informasi akuntansi untuk memberikan kemudahan kepada akuntan
untuk mengelola data transaksi.
1.2.
LANDASAN TEORI
1.2.1. Penerimaan Kas dan Fungsi yang Terkait
Kegiatan
penjualan terjadi dari transaksi barang atau jasa, baik penjualan secara tunai
maupun kredit. Da;am transaksi penjualan secara tunai barang atau jasa
diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli jika perusahaan telah menerima
pembayaran dari pembeli. Kegiatan penjualan perusahaan secara tunai ditangani
oleh perusahaan melalui sistem penjualan secara tunai. Dalam transaksi
penjualan kredit, jika pesanan pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman
barang atau penyerahan jasa untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki
piutang kepada pelanggannya. Kegiatan penjualan kredit ini ditangani oleh
perusahaan melalui sistem penjualan kredit.
Menurut Jusup,
“Piutang merupakan hak untuk menagih sejumlah uang dari si penjual kepada
seorang pembeli yang timbul karena adanya suatu transaksi (Jusup, 1999:52)”
Pada umumnya piutang timbul karena adanya transaksi penjualan kredit. Penerimaan
kas yang berasal dari pelunasan piutang hanya dilakukan melalui penagih
perusahaan, karena untuk menghindari tidak tertagihnya piutang. Penerimaan
kas dalam bentuk cek atau bilyet giro. Hal ini digunakan untuk menghindari
peluang bagi karyawan untuk menyelewengkan kas dari hasil penagihan.
Kas menurut pengertian akuntansi adalah
alat pertukaran yang dapat diterima untuk pelunasan utang dan dapat diterima
sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nilai nominalnya, juga
dalam simpanan dalam bank atau tempat-tempat lain yang dapat diambil
sewaktu-waktu (Baridwan, 1996:86).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang
termasuk dalam elemen kas adalah sebagai berikut:
1.
Uang kertas
maupun logam baik dalam mata uang dalam negeri maupun mata uang luar negeri
2.
Cek yang
belum disetor, Cek yang diterima oleh perusahaan
dari pihak lain sebagai alat pembayaran yang setiap saat dapat diuangkan di
bank yang bersangkutan
3.
Simpanan di
bank, Simpanan di bank dapat digolongkan sebagai kas adalah
jenis simpanan yang setiap saat dapat diambil sebagai alat pembayaran untuk
keperluan perusahaan. Simpanan di bank ini dapat berbentuk bilyet giro
4.
Hal-hal lain
yang dapat disamakan dengan uang, Hal-hal lain
yang dapat disamakan dengan uang adalah surat yang dapat diuangkan setiap di bank,
di mana bank akan bersedia membayar sebesar nilai nominal yang tercantum dalam
surat tersebut. Contoh hal yang dapat disamakan dengan uang ini antara lain:
a.
Cek dari
kasir (cashier’s checks)
b.
Bank draft
merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh bank yang dapat diuangkan setiap
saat di bank yang bersangkutan oleh pemilik bank draft tersebut.
Usaha hotel adalah suatu jasa
pelayanan, biasa disebut hospitality of service, yaitu usaha jasa
pelayanan bagi setiap orang yang menggunakan fasilitas yang tersedia di dalam
usaha hotel tersebut (Richard, 2000:1).
Untuk
mendapatkan data akurat yang diperlukan serta untuk mengurusi dan
mendata keluar masuknya semua keuangan, maka di perusahaan hotel memerluka satu
bagian atau departemen khusus, yang biasa disebut Accounting Departement
atau Departemen Pembukuan. Untuk melakukan tugasnya sehari-hari, berhubung
dengan banyaknya tugas pengawasan yang akan dilakukan dengan berbagai persoalan
yang mungkin bisa terjadi, maka di Accounting Departement ini umumnya
ditentukan beberapa jabatan yang tugas maupun tanggungjawabnya berbeda-beda,
tergambar ke dalam dua kelompok besar tugas, yaitu :
1)
In flows : penerimaan kas
2)
Out flows : Pengeluaran kas
Secara garis besar Tugas dan
Tanggungjawab Accounting Departement (Richard, 2000:3) adalah sebagai
berikut :
a.
Bertanggung jawab atas semua keuangan
hotel
b.
Bertanggungjawab dalam pengurusan dan
pengawasan semua transaksi yang dilakukan oleh sub departemen
c.
Menentukan dan menyetujui semua
pemasukan dan pengeluaran
d.
Menerima semua laporan dari tiap sub
departemen dalam hal penghasilan maupun ppengeluaran yang dilakukan setiap hari
e.
Menolak setiap proses akuntansi yang
tidak sesuai
f.
Membuat laporan mengenai neraca laba
dan rugi hotel secara bulanan atau tahunan
g.
Bertugas membuat dan melaksanakan Bookeeping
atau pembukuan
h.
Mengatur dan mengendalikan tugas-tugas
dari Cost Control
i.
Memeriksa dan mengawasi semua data
pencatatan
j.
Menyelesaikan semua masalah yang
berhubungan dengan keuangan hotel
Menurut Ikhsan (2008:78) fungsi yang terkait dalam jasa penjualan
kamar hotel dan restoran adalah:
1. Fungsi penjualan
Dalam
melaksanakan fungsi penjualan ada beberapa bagian yang terkait yakni bagian receptionist,
front office, food&beverages, dan operator
2. Fungsi general cashier
Pada
fungsi general cashier merupakan salah satu fungsi dalam mengumpulkan
uang dari kasir untuk dibawa ke bank
3. Fungsi akuntansi
Pada
fungsi akuntansi bertanggungjawab dalam pencatatan seluruh penerimaan kas.
Fungsi ini terdapat pada bagian accounting
1.2.2. Sistem Akuntansi
Sistem Akuntansi (Mulyadi, 1997:3)
adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian
rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna
memudahkan pengelolaan perusahaan. Dari definisi akuntansi tersebut, unsur
suatu sistem akuntansi pokok adalah :
1.
Formulir, merupakan dokumen untuk
merekam terjadinya transaksi. Formulir sering disebut dengan istilah dokumen,
karena dengan formulir ini peristiwa yang terjadi dalam organisasi direkam
(didokumentasikan) di atas secarik kertas.
Dalam perusahaan, formulir bermanfaat untuk :
1)
Menetapkan tanggung jawab timbulnya
transaksi bisnis perusahaan
2)
Merekam data transaksi bisnis
perusahaan
3)
Mengurangi kemungkinan kesalahan dengan
cara menyatakan semua kejadian dalam bentuk tulisan
4)
Menyampaikan informasi pokok dari satu
ke orang laian di dalam organisasi yang sama atau ke organisasi yang lain
2.
Jurnal, merupakan catatan akuntansi
permanen yang pertama, yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan
perusahaan. Jenis jurnal pada umumnya adalah :
a.
Jurnal penjualan
b.
Jurnal pembelian
c.
Jurnal penerimaan kas
d.
Jurnal pengeluaran kas
e.
Jurnal umum
Ada berbagai macam cara yang dapat digunakan untuk
mencatat informasi dalam jurnal :
a.
Dengan pena
b.
Dengan mesin pembukuan
c.
Dengan arsip dikumen sumber yang
berfungsi sebagai jurnal
d.
Dengan komputer
3.
Buku Besar (General Ledger)
Terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk
meringkas data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalam jurnal.
Rekening-rekening dalam buku besar ini disediakan sesuai dengan unsur informasi
yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Rekening buku besar ini di satu
pihak dapat dipandang sebagai wadah untuk menggolongkan data keuangan, di pihak
lain dapat dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan untuk penyajian
laporan keuangan.
4.
Buku Pembantu (Subsidiary Ledger)
Jika data keuangan yang digolongkan dalam buku besar
diperlukan rinciannya lebih lanjut, dapat dibentuk buku pembantu. Buku pembantu
ini terdiri dari rekening-rekening pembantu yang merinci data keuangan yang
tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar dan buku
pembantu disebut sebagai catatan akuntansi akhir juga karena setelah data
akuntansi keuangan dicatat dalam buku-buku tersebut, proses akuntansi
selanjutnya adalah penyajian laporan keuangan, bukan pencatatan lagi ke dalam
catatan akuntansi.
5.
Laporan
Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang
dapat berupa neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan laba yang ditahan,
laporan harga pokok produksi, laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok
penjualan, daftar umur pitang, daftar utang yang akan dibayar, daftar saldo
persediaan yang lambat penjualannya. Laporan berisi informasi yang merupakan
keluaran sistem akuntansi. Laporan dapat berbentuk hasil cetak komputer dan
tayangan pada layar monitor komputer.
Dari
uaraian diatas dapat digambarkan siklus akuntansi yang umumnya terjadi sebagai
berikut :
Gambar 2.1 siklus akuntansi
Sistem
akuntansi dapat disajikan dengan menggunakan bagian alir dokumen. Berikut ini
adalah simbol-simbol standar dengan penjelasannya :




1.2.3.
Sistem
Pengendalian Internal
Sistem pengendalian Internal meliputi
struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk
menjaga kekayaan organisasi, menegecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Tujuan
penegendalian internal menurut definisi diatas adalah :
1)
Menjaga kekayaan organisasi
2)
Mengecek ketelitian dan keandalan data
akuntansi
3)
Mendorong efisiensi
4)
Mendorong dipatuhinya kebijakan
manajemen
Menurut Mulyadi (1997:166) unsur pokok
sistem pengendalian intern adalah :
1)
Struktur organisasi yang memisahkan
tanggung jawab dan fungsional secara tegas
2)
Sistem wewenang dan prosedur pencatatan
yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan
dan biaya
3)
Praktik yang sehat dalam melaksanakan
tugass dan fungsi setiap unit organisasi
4)
Karyawan yang mutunya sesuai dengan
tanggung jawabnya
1.2.4. Pengendalian
Internal Dalam Sistem Penerimaan Kas
Jasa penjulan kamar hotel dan jasa lainnya
merupakan jenis penjualan kredit. Jadi sistem penerimaan kas berupa pernerimaan
kas dari piutang. Unsur pengendalian intern dalam sistem penerimaan kas
dari piutang (Mulyadi, 1997), yaitu :
1.
Organisasi :
a.
Fungsi
akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas
b.
Funsi
penerimaan kas terpisah dari fungsi akuntansi.
2.
Sumber
Otorisasi dan Prosedur Pencatatan :
a.
Debitur
diminta untuk melakukan pembayaran dalam bentuk cek atas nama atau dengan cara
pemindah bukuan (giro bilyet).
b.
Fungsi
penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar daftar piutang yang harus
ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi
c.
Pengkreditan
rekening membantu piutang oleh fungsi akuntansi (Bagian Piutang) harus
didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur
3.
Praktik yang
Sehat :
a.
Hasil
perhitungan kas harus direkam dalam berita cara perhitungan kas dan disetor
penuh ke bank dengan segera
b.
Para penagih
dan kasir harus diasuransikan.
c.
Kas dalam
perjalanan (Baik yang ada ditangan Bagian Kasa maupun ditangan bagian
perusahaan) harus diasuransikan
4.
Karyawan yang
mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya :
a.
Semua fungsi
yang terlibat harus bekerja sesuai dengan job descripsion

Gambar 2.3 struktur penegendalian
intern
Sudah jelas digambarkan bahwa
pengendalian internal terdiri dari lingkungan pengendalian, sistem akuntansi
dan prosedur pengendalian. Untuk meningkatkan pengendalian internal suatu
perusahaan, maka sistem akuntansi harus dirancang dengan baik, prosedur
pengendalian harus dilakukan dengan konsisten dan didukung dengan lingkungan
pengendalian yang baik. Karena salah satu tujuan pengendalian intenal adalah
memeriksa ketelitian dan keandalan data akuntansi. Jadi, antara sistem
akuntansi dan pengendalian internal jelas terdapat berhubungan.
4.1.
HIPOTESA
Dari hasil penelitian terdahulu dan
landasan teori yang telah diuraikan diatas, maka hipotesa yang dapat diambil
untuk diuji kembali adalah :
4.1.1. Fungsi yang
terkait dalam penerimaan kas adalah : fungsi penjualan, fungsi general
cashier, dan fungsi akuntansi
4.1.2. Sistem
akuntansi yang diterapkan adalah dengan melibatkan seluruh unsur yang ada,
yaitu : jurnal, formulir, buku besar, buku pembantu, dan laporan
4.1.3. Pengendalian
internal yang diterapkan adalah dengan melibatkan seluruh unsur yang ada, yaitu
: organisasi, otorisasi, praktik yang sehat dan karyawan yang mutunya terjamin
4.1.4. Agar
tercapainya tujuan perusahaan harus merancang sistem pengendalian internal yang
baik. Sistem pengendalian internal yang baik harus melibatkan seluruh unsur
yang ada. Maka dari itu sistem akuntansi khususnya penerimaan kas juga harus
dirancang dan dijalani dengan baik. Karena struktur pengendalian internal
terdiri dari : sistem akuntansi, prosedur pengendalian dan juga lingkungan
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1.
WAKTU DAN TEMPAT
PENELITIAN
3.1.1. Waktu
Akan dilakasanakan setelah proposal penelitian disetujui
dan berlangsung selama dua bulan
3.1.2. Tempat
Inatansi : Kusuma
Sahid Price Hotel
Alamat : Jl. Sugiyopranoto No.
20, Jawa Tengah 57111, Indonesia
Telp : +62 271 646356
3.2.
SUBYEK
PENELITIAN
Penelitian akan dilakukan di departement accounting,
yaitu :
1.
Chief Accounting/ Accounting Manager
2.
Book Keeper
3.
General Cashier
4.
A/R Officer
5.
Income Auditor
6.
Restaurant Cashier
7.
Receiving Clerk
8.
Front Office Chashier
9.
Night Audit
3.3.
JENIS DAN
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
3.3.1. Jenis
Penelitian
Metode Deskriptif (Suryana, 2010:20) yaitu metode
yang digunakan untuk mencari
unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode ini dimulai dengan
mengumpulkan data, mengaanalisis data dan menginterprestasikannya. Metode
deskriptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui: teknik survey, studi kasus
(bedakan dengan suatu kasus), studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak,
analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter.
Metode kualitatif dinamakan metode baru karena
popularitasnya belum lama. Disebut juga
metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme.
Disebut juga metode artistik karena proses penelitian lebih bersifat artistik.
Disebut juga metode interpretative research.
3.3.2.
Teknik Pengumpulan data
Sugiyono (2013:194) mengemukakan terdapat tiga
pengumpulan data berdasarkan tekniknya yaitu wawancara, angket (kuisoner), dan
observasi. Dengan penjelasan sebagai berikut :
1.
Wawancara
merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk lebih mendalami
responden secara spesifik yang dapat dilakukan dengan tatap muka ataupun
komuikasi menggunakan alat bantu komunikasi. Sugiyono (2013:194) mengemukakan
wawancara dapat dilakukan dengan cara :
a)
Wawancara
Terstruktur digunakan teknik pengumpulan data, bila peneliti atau
pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan
diperoleh. Dalam melakukan wawancara, selain membawa instrument sebagai pedoman
untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape
recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan
wawancara menjadi lancar
b)
Wawancara tidak
terstruktur, adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan
pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk
pengumpulan datanya. pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis
besar permasalahan yang akan ditanyakan
2.
Kuesioner (angket) merupakan
teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberri seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya
3.
Observasi sebagai teknik pengumpulan data
mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu
wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi
dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga pada
obyek-obyek alam yang lain. Dari proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi
dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan
serta) dan non participant observation.
3.4.
Analisa Data
Analisis data bersifat induktif/ kualitatif
berdasarkan fakta -fakta yang ditemukan di lapangan kemudian dikonstruksikan
menjadi hipotesis atau teori
3.5.
Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penulisan Tugas Akhir ini
adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab
ini, penulis akan menguraikan tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Dalam bab ini,
penulis menguraikan tentang Pengertian variable yang terkait,
dan Hipotesis
BAB III METODELOGI PENELITIAN
Dalam bab
ini akan dibahas tentang Lokasi Perusahaan, Subyek
Penelitian, dan Teknik Pengumpulan Data
BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN
Penulis akan
menguraikan tentang Sejarah Perusahaan, Sruktur
Organisasi, Analisa Data
BAB V PENUTUP
Dalam bab
terakhir ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari pembahasan yang telah
disampaikan pada pembahasan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan,
Zaki. 1993. Intermediate Accounting.
Edisi 7. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta
Cecil Gillespie, 1971, Accounting
System, Procedures And Methods, Prentice-Hall, Inc., Edisi 3, New Jersey
Ikhsan,
Arfan dan Prianthara, Ida Bagus Teddy.2008. Sistem Akuntansi
Perhotelan Edisi Pertama. Graha Ilmu : Yogyakarta
Jusup Al,
Haryono. 1999. Dasar-Dasar Akuntansi
Keuangan. Jilid 2. Yogyakarta : Bagian Penerbit STIE YKPN
Mulyadi, 1997, Sistem
Akuntansi, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ykpn, Edisi 3, Yogyakarta
Purnomo Bambang, 2005. Sistem
Akuntansi Jasa Wisata, Cetakan Ke 5, Penerbit Kanisius Yogyakarta
Sihite Richard,
2000, Hotel Accounting Dan Cashier, Edisi 5, Cetakan 5, Penerbit SIC,
Surabaya
Sugiyono.
2013. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung : Alfabeta
Suryana, 2010. Metode
Pen.elitian, Universitas Pendidikan Indonesia
variabel dari penelitiannya apa ya mbak..?
BalasHapus